Berilmu, Berakhlak dan Berprestasi

Amalan yang di Syari’atkan di Bulan Muharram

18

 Amalan-Amalan Yang Disyariatkan di Bulan Muharram.

Oleh : Ust. Ruslan Fariadi A.M. S.Ag. M.S.I.

www.imbskaltim.sch.id__Dibulan Muharram ini terdapat suatu hari yg dikenal dengan istilah “Yaum al-‘Asyura” (tanggal 10 Muharram).

Pada hari ini, seorang muslim disunnahkan untuk melaksanakan ibadah puasa (puasa (‘Asyura).

Adapun hadits-hadits yg menjadi dasar ibadah puasa tersebut antara lain:

عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ مرفوعًا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ.رواه مسلم.

Dari Abi Qatadah Rodhiyallahu ‘anhu ,Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“…Aku berharap pada Allah dengan puasa ‘Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya”.
HR.Muslim.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلَاةُ اللَّيْل.رواه مسلم.

Dari Abu Hurairah Rodhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Seutama-utama puasa setelah Ramadhan adalah (puasa) pada bulan Muharram dan seutama-utama sholat setelah sholat fardhu adalah qimullail”.
HR.Muslim

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِى شَهْرَ رَمَضَانَ.رواه البخاري ومسلم.

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam, berupaya keras untuk puasa pada satu hari melebihi yg lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari ‘Asyura dan bulan Ramadhan”.
HR. Al-Bukhori dan Muslim.

Ketika puasa pada tanggal 10 Muharram ini dilakukan oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, masih terdapat kegelisahan dikalangan sebagian sahabat, karena khawatir apa yg dilakukannya ini sebagai bentuk mengikuti tradisi orang Yahudi dan Nasrani.

Padahal Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam sangat melarang para sahabat dan umatnya untuk berperilaku (mencontoh) seperti orang Yahudi dan Nasrani (Khalif al-Yahud wa al-Nashara), sebagaimana sabda beliau :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.رواه أبو داود.

Dari Ibnu Umar, ia berkata : Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa bertasyabuh (menyerupai atau mengikuti identitas) suatu kaum, maka ia bagian dari mereka”.
HR. Abu Dawud.

Hal inilah yg menggugah mereka untuk bertanya kepada Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat imam Muslim :

عَن ابنِ عبَّاسٍ رضي الله عنهمَا قَالَ صَامَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يومَ عاشُوراء وأمَرَ بِصِيامِهِ قَالوا يَا رَسُولَ اللهِ! إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ اليَهُوْدُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَإِذَا كَانَ العَامُ الْمُقْبِلُ،إِنْ شَاءَ اللهُ، صُمْنَا اليَومَ التَّاسِع قَالَ فَلَمْ يَأتِ العامُ المُقْبِلُ، حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم.رواه مسلم.

Ketika Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa, mereka (para sahabat) berkata :

Ya Rasulullah ,ini adalah hari yg diagungkan Yahudi dan Nasrani.

Maka Rasulullah pun bersabda : “Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (tgl. 9).”

Ibnu Abbas berkata : Lalu sebelum tahun depan itu tiba, hingga Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam wafat.
HR.Muslim.

Hadits tersebut menjelaskan bahwa apa yg dilakukan oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bukan karena mengikuti tradisi Yahudi, namun beliau mengikuti dan melestarikan syariat Nabi sebelumnya – syariat Nabi Musa ‘Alaihissalam – yg dalam istilah syar’i disebut “syar’un man qablana” (syariat para nabi sebelumnya) sebagaimana bagian dari estafet perjalanan dan pembentukan hukum samawi diantara para nabi sebelumnya (tarikh tasyri’).

Hal ini ditegaskan dalam hadits riwayat imam Al-Bukhori dan Muslim :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ قَدِمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الْمَدِيْنَةَ فَرَأَى الْيَهُوْدَ تَصُوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوْا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِى إِسْرَائِيْلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ. رواه البخاري ومسلم.

Dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma berkata : ketika Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam telah sampai dan tinggal di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi melaksanakan puasa hari ‘Asyura lalu beliau bertanya :

“Apa gerangan (mengapa kalian mengerjakan) ini ?”

Mereka menjawab : Ini adalah hari kemenangan hari ketika Allah menyelamatkan Bani Isra’il dari musuh mereka lalu Nabi Musa ‘Alaihissalam menjadikannya sebagai hari berpuasa.

Maka beliau bersabda :”Aku lebih berhak dari kalian terhadap Musa”.

Lalu beliau memerintahkan untuk berpuasa.

HR. Al-Bukhori dan Muslim.

Dalam hadits lain yg diriwayatkan oleh imam Ahmad dan Ibnu Khuzaimah dalam shohihnya dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم صُومُوْا يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَخَالِفُوا فِيْهِ الْيَهُوْدَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا. رواه أبو داود وابن حزيمة.

Dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Puasalah pada hari ‘Asyura dan berbedalah dengan Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya”.

HR. Ahmad dan Khuzaimah.

Terkait dengan persoalan ini, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dalam kitab Zad al-Ma’ad, ketika menjelaskan hadits-hadits tersebut diatas mjelaskan, ada 3 alternatif cara berpuasa dibulan Muharram, yaitu :

1. Puasa tangga10 ditambah sehari sebelum dan sesudahnya (9-10-11) berdasarkan hadits riwayat imam Ahmad dan Ibnu Khuzaimah diatas.

Kesunahan puasa pada tanggal ini (9-10-11 Muharram) juga dikuatkan oleh para ulama sebagai bentuk kehati-hatian (ihtiyathan).

2. Puasa tanggal 9 dan 10 dengan mengkompromikan dan mengamalkan kedua sunah fi’liyah (puasa tangga10 Muharram) dan sunah hammiyah (cita-cita beliau (puasa pada tanggal 9 Muharram).

عن ابن عبَّاس رضي الله عنهما قال صَامَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يومَ عاشُوراء و أمَرَ بِصِيامِهِ، قالوا يا رَسُولَ اللهِ! إِنَّهُ يَومٌ تُعَظِّمُهُ اليَهودُ وَالنَّصَارَى فَقالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَإِذَا كَانَ العَامُ الْمُقْبِلُ،إِن شَاءَ اللهُ، صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِع قال فَلَمْ يَأْتِ الْعامُ المُقْبِلُ،حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم. رواه مسلم.

Ketika Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa, mereka (para sahabat) berkata : Ya Rasulullah ini adalah hari yg diagungkan Yahudi dan Nasrani.

Maka Rasulullah pun bersabda : “Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (tanggal 9).”

Ibnu Abbas berkata : Lalu sebelum tahun depan itu tiba, hingga Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam wafat.

HR. Muslim.

Praktek puasa Nabi pada tanggal 10 Muharram tersebut merupakan contoh “sunah fi’liyah” (sunah berupa perbuatan Nabi), sementara harapan dan cita-cita Nabi untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram merupakan “sunah Hammiyah” (sunah berupa cita-cita Nabi ).

Baik sunah Hammiyah maupun sunah Fi’liyah memiliki fungsi sebagai argumentasi (dalil) ketika validitas atau keshohihan haditsnya dapat dipertanggung jawabkan.

Dalam Syarh al-Nawawi li shohih Muslim dijelaskan : Sebagian ulama berpendapat sunah berpuasa pada hari kesembilan bersamaan dengan hari kesepuluh karena Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat akan berpuasa pada hari kesembilan, agar tidak tasyabuh (menyamai) dengan Yahudi yg berpuasa hanya dihari kesepuluh.

3. Cukup berpuasa tanggal 10 saja dengan niat yg tulus untuk mengikuti sunah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam dan bukan mengikuti atau tasyabuh dengan orang Yahudi.

Namun, para ulama sepakat bahwa puasa pada tanggal-tanggal ini dan khususnya pada tanggal 10 Muharram hukumnya sunah – boleh dilakukan dan boleh pula ditinggalkan, sesuai dengan sabda Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنهَا قَالَتْ كَانُوا يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ قَبْلَ أَنْ يُفْرَضَ رَمَضَانُ وَكَانَ يَوْمًا تُسْتَرُ فِيْهِ الْكَعْبَةُ فَلَمَّا فَرَضَ اللهُ رَمَضَانَ قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكَهُ فَلْيَتْرُكْهُ.رواه البخاري ومسلم.

Dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha berkata ,telah menceritakan kepada saya Muhammad bin Muqatil berkata , telah mengabarkan kepada saya Abdullah dia adalah putra dari Al-Mubarak berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abu Hafshah dari Al-Zuhriy dari ‘Urwah dari ‘Aisyah Rodhiyallaahu ‘anha berkata :

Orang-orang melaksanakan shoum hari kesepuluh (ke-10) bulan Muharram (‘Asyura) sebelum diwajibkan shoum shoum Ramadhan.

Hari itu adalah ketika Ka’bah ditutup dengan kain (kiswah).

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan puasa Ramadhan, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa yg mau shoum hari ‘Asyura laksanakanlah dan siapa yg tidak mau, tinggalkanlah”.

HR. Al-Bukhori dan Muslim.

📗Kitab Amalan-Amalan Yg Disyariatkan Di Bulan-Bulan Haram.
Oleh : Ust. Ruslan Fariadi A.M. S.Ag. M.S.I.
Penerbit: Suara Muhammadiyah.

Ditulis kembali oleh : Habib Ma’ruf bin Shodiq al-Ma’ruf .al-Purbalingga.
Devisi Penyiaran & Sosialisasi Majelis Tarjih & Tajdid Pimpinan Wilayah Kalimantan – Timur.

Namun di Kitab Tanya Jawab Agama jilid 4 halaman. 174-175 disebutkan bahwa Majelis Tarjih & Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menganjurkan puasa pada tanggal 10 Muharram.

Wallahu a’lam bishshowab.

Leave A Reply

Your email address will not be published.