Berilmu, Berakhlak dan Berprestasi

HIDUP BAHAGIA DENGAN AL-QUR’AN

0

Manusia tidak ada artinya tanpa Al Quran. Al Quran adalah ruh bagi kita. Seperti ikan yang membutuhkan air. Manusia akan menderita tanpa Al Quran, sekalipun hidup dalam fasilitas yang sangat lengkap.

Di Amerika 80% alkoholik, padahal semua fasilitas hidup telah terpenuhi, kemananan, kenyamanan. Tetapi ada satu hal yang hilang, yang mereka mencari dan tidak menemukannya.

Adapun ahli sosiologi pernah melakukan penelitian di suatu pengungsian umat Islam yang rumahnya hancur karena perang. Dia menemukan bahwa para pengungsi Islam masih bahagia. Pandangan mereka tidak kososng, selalu bermakna hidupnya. Ternyata jawabannya adalah mereka hidup bersama quran.

Siapapun yang tidak bersama Quran, pasti akan kosong hidupnya. Hidup ini pilihan, mau ikut Allah atau ikut setan. Pilihan bagi orang beriman hidupnya diisi oleh Al Quran.


Bagaimana kita hidup berasama Quran?

1. Perbaiki Niat

Menghafal Quran niatkan karena Allah.. Jika karena Allah, maka akan terus konsisten, dia tahu Allah mengawasinya, dan akan berakhlak seperti Quran.

Jangan jadikan Quran tujuan duniawi. Kalau ingin menghafal Quran, menghafal lah karena Allah. Bukan karena ingin dipandang manusia. Jangan jadikan Quran tujuan duniawi.

Dalam hadis Bukhari: “Nanti ada tiga orang yang pertama dibangkitkan di hari kiamat. Namun dilempar ke neraka. Yang pertama, seseorang yang meng-infaq-an harta siang malam. Namun ternyata hanya karena ingin dibilang dermawan. Yang kedua, seorang Ahlu Quran. Namun ternyata hanya karena ingin dipuji orang. Yang ketiga, Allah memberikan kekuatan jasmani, kesehatan, kekuatan jasmani. Namun ternyata ingin dibilang pahlawan, pemberani.”

2. Sedikit, tapi Maksimal itu Lebih Baik

Jangan ingin bisa dibilang hafiz kilat. Hafiz itu tartil, memberikan hak huruf masing-masing. Bagi yang ingin menghafal Quran, pastikan bacaan sudah benar. Sedikit tapi maksimal justru lebih baik (baik dari huruf, tartil, tajwid). Itulah mengapa Allah berfirman: “Bacalah Quran dengan tartil.”

3. Al-Quran adalah Akhlak

Al-Quran itu akhlak, perilaku, kehidupan di toko, jabatan, bukan untuk berbangga-banggaan. Niatkan untuk ingin menjadi hamba Allah.

Dibanding menghafal, yang paling penting justru memahami hakikat dan mempraktekan isi Al-Quran dalam kehidupan. Paham misi dan tujuan Al-Quran, yakni sebagai pedoman hidup.

Di zaman Rasulullah, tidak semua sahabat hafal Al Quran. Contoh: Khalid bin Walid bukan hafiz, namun akhlak dan hidupnya mengacu Quran.

Ada orang orientalis yang hafal Quran. Setiap orang bisa menghafal. Tapi ikut panduan Quran wajib punya iman.

Ada juga saya menemukan penghafal Quran yang mabuk, pezina, koruptor, pelaku maksiat, dan tidak sedikit jumlahnya. Kenapa ini terjadi? Karena salah memahami.

4. Harus Diulang-Ulang

Menghafal apa saja, itu teknis. Ada penelitian bahwa semua dan sesuatu itu bisa dihafal. Sebuah data yang diulang-ulang hingga dua puluh kali, akan pindah dari otak kanan ke otak kiri.

Para peserta hafiz, banyak yang tidak ada niatan menghafal. Tapi bapak-ibunya sering memperdengarkan berulang-ulang. Ini karena pengulangan.

Hafalan wajib diulang-ulang, jika tidak nanti akan lupa. Jangan dikira imam masjidil haram, santai-santai. Mereka mengejar hafalan, apalagi di Bulan Ramadhan ini.

Kalau merasa dirinya tidak terlalu hebat menghafal Quran. Prinsipnya kayak makanan. Tidak sesuap besar, pake teori tiga jari. Ayat yang panjang dipotong tiga. Diulang-ulang hingga meletek. Jika sudah meletek, ditambah lagi ayatnya terus.

Jika sering lupa, bisa jadi karena permulaannya tidak kuat. Mending lambat, tapi kokoh.

Menghafal diperlukan konsistensi. Mengulang yang sudah hafal lebih berat, daripada menambah hafalan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.