Berilmu, Berakhlak dan Berprestasi

Kedermawanan Rasul di Bulan Ramadhan

30

KEDERMAWANAN RASUL DI BULAN RAMADHAN

Oleh : Arip Saripudin S.Pd.I, M.A

( Pengasuh Pondok Pesantren Istiqomah Samarinda )

 

imbskaltim.sh.id_Sering kita mendengar dalam banyak penjelasan baik didalam al Qur’an maupu hadist Nabi SAW. Bahwa manfaat dari bersedekah adalah dapat mengahapus dosa sebagaimana air memadamkan api, sedekah juga dapat meredam murka Allah SAW. Mengangkat bala’ , memberkahkan bumi dan harta yang di sedekahi, selain itu juga bersedekah akan memberikan naungan pada hari kiamat dimana pada waktu itu tidak ada naungan kecuali naungan Allah SWT.

Tidak dipungkiri lagi bahwa Bulan Ramadhan adalah bulan kepedulian, kedermawanan dan keta’atan kepada Allah SWT. Sebagaimana Nabi SAW sendiri adalah orang yang paling baik akhlaknya dan orang yang paling ta’at diantara semua manusia salah satu akhlak nabi di Bulan Ramadhan adalah kepedulian dan kedermawanannya, ada banyak kisah bagaimana Rasullullah SAW dalam hal kedermawanan terukir dan abadi serta teladan bagi setiap manusia.

Salah satu janji Allah terhadap hamba yang mempunyai kepedulian sosial sebagaimana terukir didalam al Qur’an surah al Baqarah ayat 245 Allah Swt berfirman :

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan “.

Shahabat Jubair bin Muth’im bertutur, ketika ia bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba orang-orang mencegat dan meminta dengan setengah memaksa sampai-sampai beliau disudutkan ke sebuah pohon berduri. Kemudian salah seorang dari mereka mengambil mantelnya. Rasulullah SAW berhenti sejenak dan berseru, ”Berikan mantelku itu! Itu untuk menutup auratku. Seandainya aku mempunyai mantel banyak (lebih dari satu), tentu akan kubagikan pada kalian.” (HR Bukhari).

Ibunda Aisyah RA berkata, suatu hari, ketika sakit, Rasulullah SAW menyuruhku bersedekah dengan uang tujuh dinar yang disimpannya di rumah. Setelah menyuruhku bersedekah, beliau lalu pingsan. Ketika sudah siuman, Rasulullah SAW bertanya kembali: “Uang itu sudah kau sedekahkan?” “Belum, karena aku kemarin sangat sibuk,” jawabku. Rasulullah SAW bersabda, “Mengapa bisa begitu, ambil uang itu!

Begitu uang itu sudah di hadapannya, Rasulullah SAW lalu bersabda, “Bagaimana menurutmu seandainya aku tiba-tiba meninggal, sementara aku mempunyai uang yang belum kusedekahkan? Uang ini tidak akan menyelamatkan Muhammad seandainya ia meninggal sekarang, sementara ia mempunyai uang yang belum disedekahkan.” (HR Ahmad ).

Kedermawanan Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan selalu mencuri perhatian para sahabat Nabi. Kedermawanan itu adalah memberikan sesuatu yang sepatutnya kepada orang yang berhak untuk diberi, bukan berarti pemborosan. Karena pemborosan berbeda dengan kedermawanan; pemborosan itu biasanya melampaui batas dan sering kali tidak pada tempatnya.

Sebuah riwayat Ibnu Abbas RA. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi saat bulan Ramadhan tiba, terutama saat jibril menemuinya pada setiap malam Ramadhan untuk bertadarus Al Qur’an bersamanya, Rasulullah adalah orang yang paling baik kedermawanannya melebihi kecepatan angina yang berhembus.” ( H.R. Bukhari dan Muslim )

Imam Al – Hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa dalam hadist itu berkumpul bebrapa keutamaan ; keutamaan dari sisi waktu yaitu bulan Ramadan; Keutamaan Al Qur’an ; dan keutamaan dari sisi yang mebawakannya yaitu jibril, itu semua menambah semangat dalam meningkatkan kedemawanan di bulan Ramadhan.

Adapun yang dimaksud dengan : “ melebihi kecepatan angina berhembus “ adalah bahwa kedermawanan Rasul pada bulan Ramadhan dilakukan sangat spontan, cepat tanggap dan mengenai sasaran semua lapisan masyarakat, sebagaimana hembusan angin yang mengenai siapapun saja yang ada di muka bumi ini ( lihat kitab : Fathul Barri , jilid 1 , hal 31 ).

Seluruh sahabat pada masa itu berlomba-lomba mengikuti jejak teladan Nabi SAW dalam segala hal, termasuk tentang kedermawanan. Semoga, jejak kedermawanan itu terus terukir pada umat Muhammad hingga kini selama kita masih terus meleburkan diri pada rantai jejak indah itu, dan mengajarkannya kepada anak-anak dan penerus kehidupan ini insyaallah ajaran mulia ini menjadi tinta emas kemuliaan islam untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman.

Leave A Reply

Your email address will not be published.