Berilmu, Berakhlak dan Berprestasi

Petunjuk dan Arahan bagi Orang Tua dalam mendidik anak, Bagian II

0

Imam Ibnul Qayyim berkata:

Hendaklah para pendidik membiasakan anak-anaknya untuk berakhlak baik sejak dini; ajarkan agar tidak marah, tidak terburu-buru, tidak takut, tidak kejam, keras dan serakah. Karena apabila anak terbiasa dengan hal-hal negatif tadi, akan sangat susah baginya menghilangkannya di masa dewasanya.

Hendaklah orang tuanya mendidik ananya agar tidak mudah mengambil barang dari tangan orang lain, hal ini harus dihindarkan dengan keras!. Karena jika anak terbiasa begitu, akan menjadi tabiatnya, dan dia akan tumbuh dengan pribadi yang suka mengambil dan tidak suka memberi. Dia akan menjadi pribadi yang pamrih dan apabila memberi dia mengharap kembali. Dan hendaklah orang tua menjauhkan anaknya dari berbohong dan berkhianat sebagaimana anda menjauhkan anak anda dari racun.

Jauhkan anak anda dari kemalasan, menganggur, meninggalkan tanggung jawab dan suka bersantai-santai. Tapi didiklah anak anda untuk bekerja, bersibuk-sibuk, bersungguh-sungguh dan merasakan capek. Dan hindarkanlah anak anda dari makanan dan ucapan yang tidak berguna, hindarkan juga dari banyak tidur. Dan hindarkan dari bercampurbaur dengan sembarangan orang, karena hal ini dapat merusak akhklak dan hidupnya.

Hendaklah orang tua menghindarkan anaknya dari hal hal yang dapat merusak akalnya seperti alkohol, dsb. Hindarkan juga dari orang-orang yang sekiranya bisa merusak anak baik dari segi akhlak maupun perkataan, hindarkan juga dari menggunakan kain sutera (jika lelaki), karena ini bisa merusaknya dan menyalahi tabiat, seperti halnya menghindarkan biseksual, alkohol, mencuri dan berdusta. Maka semua ini diharamkan bagi umat islam dan anak kecil masuk ke dalam pengharaman ini sekalipun mereka belum mukallaf tetapi mereka siap menjadi mukallaf pada waktu nya kelak.

Maka jika anak terbiasa menggunakan kain sutera dan perhiasan emas, ia akan mengalami kerusakan dari segi pertumbuhan kukunya. Ia berkata: maka tidak boleh sholat tanpa wudhu, pun tidak boleh juga sholat dengan tidak berbusana atau dalam keadaan najis. Dan tidak juga dengan minum arak, judi dan biseksual meskipun dia masih kecil dan belum mukallaf, ia tidak mungkin melakukan itu. Dan orang barat memiliki sesuatu, yaitu: mempertimbangakan perasaan anak-anak, coba mari kita lihat apa yang dikatakan oleh imam Ibnul Qayyim:

“apabila hal itu menjadi kebaikan bagi anak, maka mereka perkataan mereka adalah benar, dan merupakan pengetahuan yang baik, dan penjagaan yang penuh kesadaran, maka seyogyanya anak disiapkan untuk mendapatkan ilmu di dalam hatinya ketika hatinya masih kosong, karena itu akan meresap, dan bersambung serta menjadi suci. Namun apabila dilihat ternyata perimbangan perasaan anak-anak ini ternyata tidak menyukai bacaan, hafalan dan metode ilmiah, duduk di majelis dan menerima hafalan, maka apa yang harus dilakukan?

Maka apabila dilihat dan hasilnya seperti ini, anak ini siap untuk berkuda dan aspek-aspkenya; menunggangi, melempar, memanah, ini semua dapat membentuk dirinya siap dilatih, karena ini bermanfaat baginya dan bagi umat muslim. Dan apabila dilihat anak ini tidak suka ilmu dan tidak suka hal berkuda, maka anak ini bukanlah anak yang diciptakan untuk hal tersebut, tetapi dia lebih melihat kepada pembuatan barang-barang, maka hal ini pun boleh dan bermanfaat bagi manusia, maka siapkan dirinya untuk hal ini.

Tentu ini semua setelah diajarkan hal-hal penting tentang agama, masalah pertimbangan perasaan dan kecenderungan ini bukan hanya milik orang barat, dan juga bukan hasil penelitian mereka, tetapi ini sudah ada pada kita umat muslim sejak dahulu kala. Pembahasan ini ada di dalam kitab “tuhfatul maudud” yang mana sudah ditulis lebih dari enam ratus tahun yang lalu.

Dan apabila segala yang kita butuhkan sudah ada di dalam agama kita, syariat kita, ulama kita, maka apabila kita katakan bahwa orang barat memiliki hal-hal positif maka kita lebih berhak mengambil hal itu darinya, dan tinggallah kehinaan bagi mereka, kita hindarkan anak-anak kita dari hal tersebut.

Semoga Allah senantiasa menjadikan kita orang yang bertanggung-jawab, menjaga amanat, dan semoga Allah meringankan hisab kita, menguatkan langkah kita, menolong kita dalam mendidik anak-anak kita.

Demikian dari saya, dan saya memohon ampunan Allah swt., maka mintalah ampunan dari Allah, sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang.

Leave A Reply

Your email address will not be published.