Berilmu, Berakhlak dan Berprestasi

Sang Teladan yang Sempurna

0

Oleh : Arip Saripudin S.Pd.I,M.A

الحمدُ لله لا واضِعَ لما رفَعَ، ولا رافِعَ لما وضَعَ، ولا مانِعَ لما أعطَى، ولا مُعطِيَ لما منَع، علَا بقَهرِه وقَدرِه وذاتِه فوقَ جميعِ مخلُوقاتِه وارتفَع، وفَطَرَ المصنُوعات على ما شاءَ فأتقَنَ ما صنَعَ، مشنه الفضلُ يُرتجَى، والكرمُ يُبتغَى، نحمدُه – سبحانه – على نعمِه الغِزار، ونشكُرُه على مُترادِفِ فضلِه المِدرار.

وأشهدُ أن لا إله إلا اللهُ وحدَه لا شريكَ له جعلَ الأعيادَ مواسِمَ أفراحِ الطائِعِين، وأيامَ سُرور المُتعبِّدين، وأشهدُ أن نبيَّنا محمدًا عبدُه ورسولُه نبيُّ الرحمةِ والهُدى أعظِم به نبيًّا، وأكرِم به رسُولًا، صلَّى الله عليه وعلى آلِه وأصحابِه بُدور الدُّجَى، وأعلامِ الهُدَى.

Dalam istilah ajaran Islam kita mengenal Ibadah dan Muamalah, mengenal Aqidah dan Syariah. Kalau kita menelaah seluruh muatan Al-Qur’an, mulai surah Al Fatihah hingga surah An Naas, begitu pula Hadith-Hadith Rasulullah SAW, yang terkait dengan ibadah hanya sekitar 20% saja, sementara 80% terkait dengan muamalah (interaksi dengan masyarakat). Baik sosial, ekonomi, budaya, bahkan politik berbangsa dan bernegara.

Jika kita ditanya, apakah dalam melaksanakan ibadah mengikuti cara yang diajarkan oleh Allah dan RasulNya melalui Al-Qur’an dan Al-Hadith? Tentu, kita jawab ya. Tata cara shalat, Puasa, Zakat, Haji dlsb seluruhnya mengikuti Allah dan RasulNya. Tetapi, kalau menyangkut masalah sosial, yang jelas prosentasenya lebih banyak, tidak mengikuti tata cara yang diajarkan Al-Qur’an dan Al Hadith. Parahnya, umat Islam justeru lebih mantap kalau menggunakan tata cara Barat, negara lain yang mereka tidak berTuhan, atau negara yang sama sekali tidak menghormati agama. Konsep mereka kita agung-agungkan, kita bangga-banggakan, seakan-akan tidak ada bandingnya.

Kita bersyukur menjadi penganut agama Islam, di mana riwayat hidup Nabinya terpaparkan secara terinci, bukan hanya setelah menjadi Nabi, namun jauh sebelumnya itu, bahkan sebelum beliau dilahirkan di dunia. Sehingga, seluruh riwayat hidupnya hingga akhir hayat terekam dengan baik. Perilaku kehidupan beliau sebagai seorang manusia pada umumnya terpaparkan secara detail. Oleh karena itu, kalau kita buka sejarah beliau, kita akan mendapatkan tuntunan bagaimana menjadi manusia yang paripurna, dalam berbagai aspek kehidupan, dalam berbagai profesi dan status.

Nabi yang lain, seperti Nabi Isa, yang hanya beberapa tahun didaulat menjadi nabi. Beliau tidak sempat melakoni berbagai lakon kehidupan. Tidak sempat menikah, sehingga tidak sempat mengajarkan dan memberi contoh tauladan menjadi suami yang baik. Kalau toh ada ajaran-ajaran yang dijumpai dalam agama Kristen tentang bagaimana berkeluarga, itu bukan contoh tauladan Nabi Isa, tetapi dari Paus Paulus, yang mereka nota bene manusia biasa bukan Nabi, yang tentu tidak makshum (terpelihara dari dosa), dan tentu mereka bisa salah. Nabi Muhammad SAW sempat berkeluarga, berarti sempat menjadi bapak, sempat menjadi suami, sempat mempunyai anak. Sehingga, kita bisa meneladani beliau bagaimana mendidik anak, bagaimana menjadi suami yang baik, dlsb. Beliau sempat menjadi pedagang, sehingga yang pedagang bisa meneladani beliau bagaimana berdagang yang baik. Beliau juga menjadi panglima perang, sehingga beliau menjadi teladan bagaimana menanamkan nilai-nilai militer yang Islami, yang sangat menghormati hak-hak asasi manusia.

Kehidupan Rasulullah SAW adalah pengejawantahan nilai-nilai Al-Qur’an secara sempurna. Sebagai seorang muslim, diajarkan untuk selalu mengikuti dan meneladani beliau. Namun, masih ada, bahkan banyak yang enggan untuk menerapkan nilai-nilai Al-Qur’an yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Mengapa demikian? Barangkali faktor utamanya adalah hubbud dunya wa karoohiyatul maut (terlalu cinta kepada dunia dan takut akan manti). Takut mati bukan hanya dalam arti jiwa, tetapi takut mati ekonominya, bagi ekonom dan pelaku perdagangan, mati karir politiknya, bagi politikus, mati karir jabatannya, bagi pejabat, dlsb.

Kalau kita melihat sejarah Khulafaaur Rasyiduun, yakni Sahabat Nabi yang mengikuti secara sempurna apa yang ada di dalam Al-Qur’an. Mereka adalah hidup di negara tandus, gersang, tidak dikenal oleh bangsa-bangsa lain, dan mungkin pada saat itu tidak tertera pada peta dunia. Namun, karena menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an, maka kurang dari satu abad, menjelma menjadi negara yang besar dan diperhitungkan dunia. Mampu membuat suatu imperium yang luar biasa luasnya, membentang mulai dari India sampai ke Spanyol, dengan kesejahteraan yang merata. Bahkan nyaris saat itu, sulit mendapati orang miskin, sehingga sulit mendistribusikan zakat. Hal ini mengindikasikan bagaimana kesejahteraan yang adil dan merata, padahal kekuasaan teroterial yang sangat luas pada saat itu.

Dalam kehidupan Rasulullah SAW yang merupakan penjabaran dari nilai-nilai Al Qur’an yang sempurna, terdapat tuntunan yang bisa kita jadikan pedoman, kita jadikan sumber dari segala nilai.  

21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS Al Ahzab : 21).

Namun, kalau kita mengabaikan bahkan enggan untuk melaksanakan apa yang ada dalam Al-Qur’an dan Al Hadith, maka kita termasuk orang-orang yang bohong kepada agama kita sendiri. Barangkali dari kebohongan-kebohongan ini, Allah kemudian mengingatkan kepada kita, seperti yang kita saksikan dan kita alami, musibah demi musibah, bencana demi bencana terjadi di mana-mana. Nestapa demi nestapa, derita demi derita. Sehingga, kita seharusnya intospeksi diri sejauh mana ketaatan kita kepada Allah dan Rasulullah SAW. (QS Al A’raf : 96).

Maka, marilah kita kembali kepada Al Qur’an, kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya yang terkait dengan ibadah, tetapi juga yang terkait dengan muamalah. Karena dengan berbagai segmen kehidupan, Rasulullah SAW telah memberi contoh tauladan yang sangat detail. Dengan demikian kita menjadi hamba Allah yang benar-benar beriman dan bertaqwa, sehingga kesejahteraan dan keadilan bisa kita wujudkan di negeri ini.

DR Syekh Hisyam Al Bahriyyah (Ulama’ dari Al Azhar Kairo, Mesir). Berkat :

Islam adalah nikmat yang amat sangat agung, yang tidak Allah berikan kepada semua manusia. Kecuali hamba-hamba yang dipilih oleh Allah SWT. Alhamdulillah, nikmat iman dan Islam telah berada di dalam diri kita, dan berarti kita termasuk hamba yang dipilih oleh Allah SWT. Islam adalah agama yang mulia. Di dalam ajaran Islam, ada ajaran yang sangat agung yaitu tauhidullah (mengesakan Allah) dengan memurnikan segala bentuk ibadah, hanya kepada Allah SWT. Allah berfirman dalam surah Az Zumar ayat 2 :

2. Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.


Allah menjelaskan tentang keutamaan Islam dan iman dalam surah Al Baqarah dan surah Ali Imran. Kedua surat ini sangat panjang yang di dalamnya banyak menjelaskan tentang kemurnian tauhidullah (mengesakan Allah), dan larangan membuat tandingan-tandingan untuNya. Kenapa Allah memilihkan agama Islam yang mulia ini untuk kita? Karena Agama Islam adalah agama fitrah. Seakan-akan Islam adalah makhluk yang Allah ciptakan dan diberikan kepada kita. Maka, Allah SWT berfirman dalam surah Ar Ruum : 30,

yang maknanya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Maksud Fitrah Allah adalah ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan. Makna Islam adalah istiqamah yakni amal yang senantiasa terus-menerus atau berkesinambungan.

Rasulullah SAW bersabda : Kullu mauluudin yuuladu ‘alal fithtah, illa anna abawaahu yuhaawidaanihi au yunashshiroonihi au yumajjisaanihi (Tiap-tiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka bapaknyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nashrani atau Majusi). Para ulama mengatakan bahwa makna fitrah adalah Islam. Maka, tidak hanya bisa dikatakan suci, tidak punya dosa, tetapi bertauhid dan menjadi muslim. Sehingga, jika ada seorang anak ditinggalkan hidup begitu saja, maka dia akan hidup di atas fitrahnya yakni mengucap laa ilaaha illallah, dan di menjadi seorang muslim. Ada pertanyaan yang sangat penting. Kenapa saya menjelaskan tentang Islam begitu semangat? Karena Islam adalah suatu nikmat yang sangat agung. Agama para nabi. Maka seyogyanya melakukan dua hal, pertama, memusatkan segala bentuk aktivitas kita, untuk mencari ridho Allah SWT bukan mencari ridhonya manusia. Menghadapkan wajah hanya kepada Allah SWT. Dengan keyakinan yang benar.

Menengadahkan tangan untuk meminta kepada Allah SWT. Sehingga dalam tidur kita disunnahkan untuk membaca “ “Ya Allah, aku hadapkan wajahku kepadaMu” dengan harapan tatkala menundukkan wajah kita kepada Allah SWT, jika Dia menutup akhir umur kita, masih dalam keadaan tunduk (Islam). Menghadap kepada Allah dalam keadaan ikhlas, membersihkan amal dari segala macam bentuk kesyirikan yang menyebabkan kemurkaan Allah SWT.

Kedua, Senantiasa mengikhlaskan beribadah hanya kepada Allah SWT. Atas segala aktivitas, perbuatan, perkataan maupun sikap harus diikhlaskan dan demi mencari ridha Allah SWT. Rasulullah bersabda : Sesungguhnya Allah hanya akan menerima amal yang semua amal itu diniatkan hanya karena Allah SWT.

Demikianlah uraian khutbah pada hari yang baik ini, bahwa meneladani Rosulullah bukanlah dengan sebuah seremonial belaka di bulan-bulan tertentu akan tetapi meneladani   yaitu berusaha menjalankan, mencontoh seluruh kehidupan Rosulullah SAW.

Leave A Reply

Your email address will not be published.